Makino san adalah salah seorang murid langsung dari Jigoro Kano, Judo Founder, pada perang dunia ke II sebagai perwira tentara Jepang beliau di tugaskan di pulau Jawa, selama ditugaskan di pulau Jawa beliau banyak bergaul dan dapat diterima baik dengan tokoh-tokoh beladiri Tapak Suci (saat itu Pendekar Besar KH Busyro Syuhada sudah berpulang ke Rahmatullah) dan tokoh-tokoh religius di Kauman, Yoyakarta. Disini , di Kauman, berdasarkan referensi yang saya baca beliau sempat menurunkan ilmu pedangnya kepada Perguruan Tapak Suci. Setelah Jepang dikalahkan oleh sekutu dan seluruh tentara Jepang menjadi tahanan sekutu, pemuda Makino yang sudah menjadi pejuang Indonesia menetap di Yogya dan masuk agama Islam dan berganti nama menjadi Umar Muhamad Makino (ada referensi yang menyebutnya Omar Makino) dan beliau menjadi instruktur militer di Akademi Militer Nasional (AMN) di Magelang dan menikah dengan seorang gadis Jawa, banyak sekali murid-murid beliau di Angkatan Darat yang pada tahun 1990an menjadi puncak pimpinan Angkatan Darat (menjadi KASAD dll. pada saat itu)., salah satu murid beliau di AMN angkatan 1962 yang sempat menyinggung Prof. Makino san dalam tulisannya di Kaskus - The Inspiration to Build The Great Life- adalah Kolonel CPM (Purn ) Nurhana Tirtaamijaya yang kemudian dari menjadi komandan pengawal pribadi Presiden Soekarno hingga secara tragis justru mendapat tugas untuk mengawasi kehidupan sehari-hari Soekarno setelah terjadi perubahan konstelasi politik di Indonesia.
Dari banyak referensi-referensi yang saya baca Makino san juga pernah membuka dojo judo di Surabaya. Beliau wafat di Yogyakarta dan dimakamkan di Makam Pahlawan Yogyakarta dengan upacara militer penuh.
Dari banyak referensi-referensi yang saya baca Makino san juga pernah membuka dojo judo di Surabaya. Beliau wafat di Yogyakarta dan dimakamkan di Makam Pahlawan Yogyakarta dengan upacara militer penuh.
Tahun 1970an saat murid-murid langsung dari Jigoro Kano sudah meninggal hanya Makino san saja yang masih tinggal membuat pemerintah Jepang melalui kedutaannya saat itu memohon kepada beliau (walaupun masih melatih murid-muridnya di dojo Institut Judo Jakarta Raya , tetapi saat itu beliau sakit gula dan sudah dalam keadaan lumpuh) untuk bersedia kembali ke Jepang berobat dan kembali menjadi warga negara Jepang serta untuk melanjutkan tradisi Judo di Jepang. Karena kecintaannya pada bangsa Indonesia beliau menolak kembali ke Jepang walaupun saat itu pemerintah Jepang akan membayar kembali pensiun beliau dan seluruh fasilitas-fasilitas yang lain, termasuk fasilitas pengobatan yang saat itu sangat dibutuhkan oleh beliau yang hidupnya sangat sederhana sekali.
Pada saat tersebut banyak sekali pejudo-pejudo senior Jepang yang datang ke Jakarta untuk mendapatkan pengesahan tingkat keahlian mereka (untuk mendapatkan cap semacam stempel kecil sebagai tanda tangan di budaya Jepang).
Murid-murid beliau baik di militer, di AMN, maupun sipil di Institut Judo Jakarta Raya (IJDR) selalu menjadi judoka-judoka yang disegani dalam setiap kompetisi dan berpengaruh di Indonesia, mungkin itu pula sebabnya muncul upaya untuk menyingkirkan nama beliau dari sejarah perkembangan awal Judo di Indonesia. Dua orang dari banyak murid beliau yang masih hidup dan masih berkiprah dan membaktikan diri dalam dunia Judo adalah: Rudy Rapar dan Pergiwati, saat ini kalau tidak salah menjabat sebagai Dewan Sabuk Hitam PJSI Cabang Jakarta Raya.
Dari referensi yang pernah saya baca Makino san juga pernah menjabat sebagai Direktur Tehnik PJSI dimana saat itu PJSI sudah menjadi anggota resmi INTERNASIONAL JUDO FEDERATION (IJF). Sayang, dalam perkembangan organisasi terjadi konflik antara Teknical Director PJSI S. Makino dengan JD Schilder yang memimpin Jigoro Kano Kwai. Hal tersebut meluas dan pad akhirnya berakibat anggota Jigoro Kano Kwai tidak diperbolehkan menjadi anggota PJSI sehingga mereka pun mendirikan organisasi tandingan yang diberi nama PERSATUAN JUDO INDONESIA DJAKARTA (PJID) yang dipelopori oleh mahasiswa dan Kepolisian RI. Pada masa tersebut kegiatan judo di Indonesia ditangani oleh PJSI dan PJID. Hal ini berlanjut sampai tahun 1960.
Nama beliau saya kenal dan banyak saya dengar karena dimasa kanak-kanak saya (sekitar tahun 1963) saya sering mengantarkan seorang paman yang juga ikut belajar judo pada dojo beliau dimana saat beristirahat saya sering mendengar dari murid-murid beliau yang sedang bercerita tentang beliau. Paman saya tidak terlalu lama berlatih sehingga saya tidak pernah bermain lagi ke dojo beliau hingga suatu saat sekitar tahun 1970an saya yang saat itu tinggal di jalan Madiun yang tak telalu jauh dari dojo beliau sering bermain disekitar dojo dan saya teringat lagi untuk mampir "nonton" latihan judo dan saat itulah saya pertama kali melihat ibu Pergiwati dan saat itu saya belum melihat pak Rudy Rappar suami ibu Pergiwati (mungkin Ibu Perwiwati angkatannya lebih senior dibandingkan ibu Pergiwati), kedua-duanya kemudian menjadi pelatih saya ketika tahun 1980an saya ikut bergabung belajar olah raga judo di dojo beliau. Disinilah saya lebih sering lagi mendengar tentang Seiichi Makino san langsung dari pelatih saya pak Rudy Rappar yang pernah belajar langsung dari beliau.
Dari referensi yang pernah saya baca Makino san juga pernah menjabat sebagai Direktur Tehnik PJSI dimana saat itu PJSI sudah menjadi anggota resmi INTERNASIONAL JUDO FEDERATION (IJF). Sayang, dalam perkembangan organisasi terjadi konflik antara Teknical Director PJSI S. Makino dengan JD Schilder yang memimpin Jigoro Kano Kwai. Hal tersebut meluas dan pad akhirnya berakibat anggota Jigoro Kano Kwai tidak diperbolehkan menjadi anggota PJSI sehingga mereka pun mendirikan organisasi tandingan yang diberi nama PERSATUAN JUDO INDONESIA DJAKARTA (PJID) yang dipelopori oleh mahasiswa dan Kepolisian RI. Pada masa tersebut kegiatan judo di Indonesia ditangani oleh PJSI dan PJID. Hal ini berlanjut sampai tahun 1960.
Nama beliau saya kenal dan banyak saya dengar karena dimasa kanak-kanak saya (sekitar tahun 1963) saya sering mengantarkan seorang paman yang juga ikut belajar judo pada dojo beliau dimana saat beristirahat saya sering mendengar dari murid-murid beliau yang sedang bercerita tentang beliau. Paman saya tidak terlalu lama berlatih sehingga saya tidak pernah bermain lagi ke dojo beliau hingga suatu saat sekitar tahun 1970an saya yang saat itu tinggal di jalan Madiun yang tak telalu jauh dari dojo beliau sering bermain disekitar dojo dan saya teringat lagi untuk mampir "nonton" latihan judo dan saat itulah saya pertama kali melihat ibu Pergiwati dan saat itu saya belum melihat pak Rudy Rappar suami ibu Pergiwati (mungkin Ibu Perwiwati angkatannya lebih senior dibandingkan ibu Pergiwati), kedua-duanya kemudian menjadi pelatih saya ketika tahun 1980an saya ikut bergabung belajar olah raga judo di dojo beliau. Disinilah saya lebih sering lagi mendengar tentang Seiichi Makino san langsung dari pelatih saya pak Rudy Rappar yang pernah belajar langsung dari beliau.
Saya bersyukur ternyata nama beliau tidak seratus persen hilang. Lucunya nama beliau ternyata muncul dibeberapa tulisan di Indonesia yang justru menyangkut sejarah pencak silat Tapak Suci dan Jujutsu di Indonesia. Hal ini dapat ditemui pada:
http://www.kpsnusantara.com/rapid/rapid10.htmhttp://id.wikipedia.org/wiki/Jujutsu
Bagi siapa saja yang mungkin mengenal beliau dan ingin menambah panjang "sejarah" beliau di blog ini, seperti bintang jasa apa yang diterima beliau, nama lengkap Indonesia beliau dll, dengan senang hati akan saya terima dan akan saya sertakan nama / data pribadi.
halo mas, apakah punya no kontak sensei rudi rapar atau sensei pergiwati? saya pernah latihan bersama beliau berdua di dojo pol airud beberapa tahun yang lalu, mohon informasinya dikirim ke email saya : roniset@gmail.com , terimakasih
BalasHapusMohon maaf pak Roni (kalau tidak salah Dr Roni) saya sudah lama tidak membuka blok ini. Seharusnya ada email yg mewanti-wanti saya kalau ada postingan bapak Roni. Saya lupa alamat rumah beliau didekat Kelapa gading. Tapi setahun saya Ibu Wati masih aktif melatih di IJDR di gelangnya g remajanya cempaka putih. Salam kenal.
HapusHalo, nama saya Anne. Saya anaknya Bpk & Ibu Pergiwati Rapar. Bpk. Rudi Rapar sdh meninggal dunia Agustus 2017. Ibu Pergiwati masih aktif di Judo & masih mengajar di Padepokan Judo di Kelapa Gading.
HapusDulu saya pernah juga belajar Judo sebentar, sekitar dua bulan, di Institut Judo Djakarta di jalan Menteng Kecil, dekat bundaran patung Tani yang ada banyak toko fotocopy. Waktu itu saya masih SD kelas 5 kalau gak salah, dan saya lulus SD tahun 1971, di SD Trisula jalan Pegangsaan Tengah 2 dekat bioskop Megaria. Cukup banyak anak SD di sekolah saya yang juga belajar judo disitu, antara lain Indro Warkop yang satu tahun diatas saya. Kalau ada foto kenangan Institut Judo Djakarta itu mohon dimuat juga.
BalasHapusSalam kenal, anda senior saya.
HapusHalo nama saya Anastacia Hicks (putri terakhir dr Bpk. Rudi Rapar). Dulu waktu masih muda & sebelum menikah klo pertandingan pakai nama Anastacia Rapar. Bapak sedang dirawat di RS. Fatmawati gedung Bogenville, ruang ICU, lantai 4. Bapak Rudy dalam keadaan koma saat ini sdh 1 minggu krn penyakit Pneumonia. Klo mau jenguk jam 11-12 pagi dan 5-7 malam. Mohon doa restunya utk Bpk. Rudy Rapar agar Tuhan memberikan yg terbaik bagi beliau. Amin.
BalasHapusKomentar ini telah dihapus oleh pengarang.
HapusKomentar ini telah dihapus oleh pengarang.
HapusKomentar ini telah dihapus oleh pengarang.
HapusTerimakasih sekali, ini tulisan sejarah yang luar biasa dan tidak banyak yang tahu, saya pernah berlatih di Klub Judo TNH Yogyakarta, lokasi sebelah timur kampung Kauman Yogyakarta, yang menurut pelatih saya juga merupakan Klub Judo aliran Makino
BalasHapusBagi Tapak Suci , Makino San ( Omar Muhammad Makino ) itu bagian dari sejarah . Karena Pendekar Besar Barie Irsyad dan Makino San itu bersahabat erat di Kauman. Saling mempelajari ilmu. Ada jejak Makino San dlm jurus Tapak Suci
BalasHapus